Pengaruh Oksidasi Hidrogen Peroksida Terhadap Nilai Kalor, Proksimat, dan Ultimat Batubara Formasi Wahau

Authors

  • Malik Ardian UPN "Veteran" Yogyakarta
  • Shofa Rijalul Haq Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
  • R.M. Basuki Rahmad Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
  • Hakim Erlangga Bernado Sakti Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
  • Oktarian W Lusantono Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
  • Dwi Poetranto Waloejo Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.31315/jtp.v11i2.15621

Keywords:

Batubara Formasi Wahau, Hidrogen peroksida, Nilai kalor, Proksimat, Ultimat

Abstract

Batubara lignit dari Formasi Wahau, Kalimantan Timur, memiliki cadangan besar namun nilai kalor rendah
sehingga kurang kompetitif di pasar internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perlakuan
hidrogen peroksida (H₂O₂) 3% terhadap nilai kalor serta komposisi proksimat dan ultimat pada tiga ukuran partikel
(40, 60, dan 100 mesh). Metode penelitian meliputi preparasi sampel, perlakuan oksidasi, serta pengujian nilai
kalor menggunakan bom kalorimeter, analisis proksimat, dan analisis ultimat. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa perlakuan H₂O₂ tidak meningkatkan nilai kalor, bahkan cenderung menurunkannya. Penurunan terbesar
terjadi pada 60 mesh, dari 5.627 menjadi 4.291 kkal/kg. Analisis proksimat memperlihatkan peningkatan volatile
matter (misalnya pada 60 mesh dari 13,42% menjadi 19,54%), penurunan fixed carbon (pada 100 mesh dari
81,12% menjadi 76,29%), serta kecenderungan peningkatan kadar abu. Analisis ultimat menunjukkan penurunan
karbon (C) dan peningkatan oksigen (O), sedangkan sulfur (S) tidak terdeteksi pada semua sampel.
Kesimpulannya, H₂O₂ berperan sebagai agen oksidator yang mengubah komposisi kimia batubara dan
meningkatkan reaktivitasnya, tetapi tidak efektif sebagai metode peningkatan mutu energi batubara Formasi
Wahau.

References

Ahnonkitpanit, E., & Prasassarakich, P. (1989). Coal desulphurization in aqueous hydrogen peroxide. Fuel, 68(5), 635–639.

Rahmad, B., Anggayana, K., & Harjanto. (2013). Komposisi mikroskopis batubara tebal Formasi Wahau, daerah Muara Wahau, Kalimantan Timur. Jurnal Teknologi Mineral Indonesia, 9(1), 15–26.

Arif, Irwandy. (2022). Era Baru Batubara Indonesia. Jakarta. Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

ASTM D121. (2013). Standard terminology of coal and coke. ASTM International.

ASTM D3172. (2013). Standard practice for proximate analysis of coal and coke. ASTM International.

ASTM D3176. (2015). Standard practice for ultimate analysis of coal and coke. ASTM International.

ASTM D388-1999. (1999). Standard classification of coals by rank. ASTM International.

ASTM D388-19a. (2019). Standard classification of coals by rank. ASTM International.

Cai, S., Zhang, S., Wei, Y., Sher, F., Wen, L., Xu, J., Dang, J., & Hu, L. (2021). A novel method for removing organic sulfur from high-sulfur coal: Migration of organic sulfur during microwave treatment with NaOH–H₂O₂.

Gouricharan, T., & Subba Rao, D. (2016). Coal and its characterization. In D. Subba Rao (Ed.), Coal processing and utilization (pp. 1–28). CRC Press.

Huang, J., Li, Y., Xu, J., Liu, S., & Wang, J. (2021). Biogenic methane generation from Vietnamese coal after pretreatment with hydrogen peroxide. Fuel Processing Technology, 215, 106732

Kentucky Geological Survey. (n.d.). Coal formation process. University of Kentucky. Retrieved from https://www.uky.edu/KGS

Mae, K., Shindo, H., & Miura, K. (2001). A new two-step oxidative degradation method for producing valuable chemicals from low rank coals under mild conditions. Fuel, 80(5), 559–563.

Parr Instrument Company. (2016). Operating instruction manual: Parr oxygen bomb calorimeter. Moline, IL: Parr Instrument Company.

Rahmad, B. (2016). Geology And Geoheritage Of Muara Wahau Coal Field, East Kalimantan, Indonesia – Concern Of: Geology, Microscopy, Organic Geochemistry And Coalbed Methane Potential. Jurnal Teknologi Mineral, 12(1), 25–34.

Smakowski, T., Malon, A., & Tyminski, M. (2011). Hard coal. In T. Smakowski (Ed.), Minerals yearbook of Poland (pp. 45–55). Warsaw: Mineral and Energy Economy Research Institute.

Speight, J. G. (2013). The chemistry and technology of coal (3rd ed.). CRC Press.

SNI 13-6011-1999. (1999). Klasifikasi sumber daya batubara Indonesia. Badan Standardisasi Nasional.

Xiong, Y., Jin, L., Li, Y., Zhu, J., & Hu, H. (2020). Hydrogen peroxide oxidation degradation of a low-rank Naomaohu coal. Fuel Processing Technology, 206, 106484.

Xiong, Y., Li, Z., Xu, H., & Zhang, Y. (2020). Oxidative degradation of coal by hydrogen peroxide: Structural transformation and mechanism. Fuel, 263, 116722.

Published

2026-01-28